Ticker

6/recent/ticker-posts

52 Hari Dikerjakan Siang-Malam, The Tamperan Cruiser Siap Bawa Wisata Bahari Pacitan Mendunia

52 Hari Dikerjakan Siang-Malam, The Tamperan Cruiser Siap Bawa Wisata Bahari Pacitan Mendunia


PACITAN, INFO-NUSANTARA.COM — Hanya dalam waktu 52 hari, sejak 30 Juni hingga 20 Agustus 2026, sebuah karya anak-anak desa Pacitan berhasil diwujudkan. The Tamperan Cruiser, kapal wisata yang dibangun di Desa Sidomulyo, Kecamatan Kebonagung, Pacitan, kini siap menyentuh laut dan membawa konsep baru bagi pengembangan wisata bahari Pacitan.

Kapal tersebut dikerjakan melalui proses panjang siang dan malam oleh Bambang Purnomo bersama para pemuda dari Desa Sidomulyo, Kalipelus dan Klesem.
The Tamperan Cruiser dikembangkan oleh PT Janenake Kahfi Andalan di bawah pimpinan Muhammad Rofiqin, atau yang akrab disapa Pak Mamat.
Menurut Muhammad Rofiqin, gagasan pembangunan kapal wisata tersebut berangkat dari keinginan untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di Pacitan.

“Kami melihat wisatawan dari luar daerah banyak yang datang ke Pacitan, tetapi sebagian besar belum menginap. Dari situ kami berpikir, bagaimana caranya agar wisatawan tidak hanya datang, tetapi bisa tinggal lebih lama dan mendapatkan pengalaman wisata yang berbeda,” ujar Muhammad Rofiqin.

Ia mengatakan, The Tamperan Cruiser diharapkan menjadi salah satu jawaban atas kebutuhan tersebut dengan menawarkan konsep wisata “Sunset to Sunrise.”

“Konsep kami sederhana, wisatawan datang sore hari, menikmati sunset, kemudian menginap di Pacitan. Pagi harinya mereka bisa naik kapal dan menikmati sunrise dari tengah laut. Jadi ada alasan baru bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama di Pacitan,” jelasnya.

Bukan Sekadar Kapal Wisata

Muhammad Rofiqin menegaskan, The Tamperan Cruiser tidak hanya diposisikan sebagai kapal untuk membawa wisatawan berkeliling laut.

Menurutnya, keberadaan kapal tersebut diharapkan mampu menciptakan efek domino bagi perekonomian masyarakat Pacitan.

“Kami ingin kapal ini bukan hanya menjadi bisnis kami. Harapannya bisa ikut menggerakkan ekonomi masyarakat. Wisatawan yang menginap tentu membutuhkan hotel, makan di restoran, menggunakan transportasi, membeli produk UMKM, menggunakan jasa pemandu dan berkunjung ke destinasi lainnya,” katanya.

Dengan demikian, kata dia, pengembangan wisata bahari harus dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan berbagai sektor.
“Kalau wisatawan tinggal lebih lama, maka uang yang dibelanjakan di Pacitan juga semakin banyak. Ini yang ingin kami dorong. Kami ingin masyarakat Pacitan ikut mendapatkan manfaat dari berkembangnya wisata bahari,” tambahnya.

Melihat Pacitan dari Laut

Selama ini keindahan Pacitan lebih banyak dinikmati dari daratan, pantai dan pegunungan. Melalui The Tamperan Cruiser, wisatawan akan diajak menikmati Pacitan dari perspektif berbeda, yakni dari tengah laut.

Sejumlah konsep wisata dapat dikembangkan, mulai dari menikmati sunset, sunrise, menjelajahi teluk, fishing trip hingga private charter.
Muhammad Rofiqin menyebut pembangunan kapal tersebut juga menjadi bukti bahwa anak-anak desa Pacitan memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya yang dapat mendukung sektor pariwisata.

“Kapal ini dibangun di Pacitan dan dikerjakan oleh orang-orang Pacitan. Kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak desa juga mampu berkarya dan menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi dan pariwisata,” ungkapnya.

20 Agustus, First Touch of The Sea

Tanggal 20 Agustus 2026 menjadi momentum penting bagi The Tamperan Cruiser melalui agenda First Touch of The Sea, sebagai langkah awal kapal tersebut menyentuh laut.

Kehadiran kapal ini membawa semangat baru dalam mengembangkan potensi wisata bahari Pacitan.

Dengan slogan “Sunset to Sunrise — See Pacitan From The Sea”, The Tamperan Cruiser diharapkan dapat menjadi salah satu ikon baru wisata bahari sekaligus memperkuat branding Pacitan sebagai “70 Mile Sea Paradise.”

“Kami ingin wisatawan tidak hanya melihat Pacitan dari darat. Sekarang mari kita lihat Pacitan dari laut. Mudah-mudahan The Tamperan Cruiser bisa menjadi bagian dari perjalanan Pacitan menuju destinasi wisata bahari yang semakin dikenal, bukan hanya di Indonesia tetapi juga dunia,” pungkas Muhammad Rofiqin. (*) 

Dari desa, untuk Pacitan. Dari laut, membawa Pacitan lebih jauh.