Ticker

6/recent/ticker-posts

2027 Ngadirojo Bidik Dana Indonesiaraya


2027 Ngadirojo Bidik Dana Indonesiaraya

Pacitan, info-nusantara.com
Dana Indonesiaraya 2027 mulai dibidik komunitas budaya Kecamatan Ngadirojo. Namun sebelum proposal disusun, ada pekerjaan penting yang harus dibereskan: membangun tim yang kuat, menentukan gagasan, dan memastikan pengelolaan program dapat dipertanggungjawabkan.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan Camat Ngadirojo M. Taufik dengan Dr. Agoes Hendriyanto di Sirnoboyo, Rabu (16/9/2026).

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal komunitas di wilayah Ngadirojo untuk mempersiapkan diri mengikuti program Dana Indonesiaraya 2027, yang disebut sebagai pengembangan dari program Dana Indonesiana.

Diskusi tidak sekadar membicarakan peluang pendanaan. Pengalaman mengenai penyusunan proposal, pelaksanaan kegiatan, administrasi, pengelolaan anggaran hingga pelaporan menjadi bagian utama pembahasan.

1. Agoes: Jangan Kejar Dana, Bangun Programnya

Dr. Agoes Hendriyanto memberikan penekanan bahwa komunitas sebaiknya tidak menjadikan besaran dana sebagai titik awal penyusunan proposal.

“Yang paling penting adalah timnya dahulu. Kalau tim sudah jelas dan orang-orang yang bertanggung jawab sudah ditentukan, proposal akan lebih mudah disusun dan didampingi,” jelas Agoes.

Menurutnya, komunitas harus terlebih dahulu menentukan persoalan budaya yang hendak dijawab, potensi yang akan dikembangkan, tujuan, sasaran, tahapan kegiatan, luaran, serta dampak program.

Setelah kerangka kegiatan jelas, kebutuhan anggaran baru disusun.

2. Ketua dan Bendahara Tak Boleh Asal Pilih

Agoes menilai posisi ketua dan bendahara menjadi bagian penting dalam kesiapan komunitas.

“Ketua dan bendahara harus benar-benar orang yang bertanggung jawab. Mereka yang nantinya menjadi bagian penting dalam pengelolaan keuangan, mulai dari pelaksanaan kegiatan sampai dengan SPJ dan pelaporan,” ujarnya.

Pengelolaan dana, kata dia, bukan hanya soal membelanjakan anggaran. Komunitas juga harus siap menghadapi kebutuhan administrasi, dokumentasi, SPJ, pelaporan, hingga penginputan melalui sistem Erispro sesuai ketentuan program.

3. Proposal Harus Punya Road Map

Gagasan budaya yang menarik, menurut Agoes, harus diterjemahkan menjadi perencanaan yang terukur.

Proposal perlu menunjukkan hubungan yang jelas antara masalah, tujuan, kegiatan, indikator keberhasilan, luaran, dampak, hingga anggaran.

Dengan demikian, proposal tidak berhenti sebagai dokumen pengajuan dana, tetapi menjadi rancangan program yang dapat dilaksanakan dan dievaluasi.

4. Taufik: Ini Menjadi Pekerjaan Rumah

Camat Ngadirojo M. Taufik menyambut baik masukan tersebut.

Pembentukan tim dengan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus segera ditindaklanjuti.

Komunitas perlu menentukan personel yang tepat, terutama untuk posisi ketua dan bendahara, sebelum memasuki tahap penyusunan proposal.

Taufik juga menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti gagasan tersebut bersama komunitas di wilayah Kecamatan Ngadirojo.

5. Pengalaman Dana Indonesiana Jadi Bekal

Pembahasan di Sirnoboyo tidak terlepas dari pengalaman Agoes dalam program pendanaan kebudayaan.

Pengalaman tersebut sebelumnya disampaikan dalam FGD I Diseminasi Luaran dan Dialog Budaya di Aula STKIP PGRI Pacitan, Rabu (9/9/2026).

Forum tersebut menghadirkan narasumber dari Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur serta Faris Wibisono, yang memberikan gambaran mengenai dinamika dan pengalaman pengelolaan program pendanaan kebudayaan.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan pembelajaran bagi komunitas Ngadirojo dalam mempersiapkan diri.

6. November Mulai Pendampingan Proposal

Setelah tim terbentuk, tahap berikutnya adalah pendampingan penyusunan proposal.

Agoes menyatakan kesiapan memberikan pendampingan pada November mendatang.

“Insyaallah bulan November sudah bisa dilakukan pendampingan pembuatan proposal,” ungkapnya.

Pendampingan akan diarahkan agar komunitas mampu menyusun proposal berdasarkan potensi budaya dan kebutuhan masyarakat, sekaligus memperlihatkan kemampuan organisasi dalam melaksanakan program dan mempertanggungjawabkan anggaran.

7. Dari Sirnoboyo, Persiapan Dimulai

Pertemuan di Sirnoboyo menjadi titik awal bagi komunitas Ngadirojo untuk menyiapkan diri menghadapi Dana Indonesiaraya 2027.

Tahapannya mulai dirumuskan: membangun tim, memetakan potensi budaya, menentukan gagasan utama, menyusun road map, menghitung kebutuhan anggaran, dan menyiapkan sistem pertanggungjawaban.

Pesan yang mengemuka dari pertemuan tersebut sederhana, tetapi penting: jangan memulai dari berapa dana yang akan diperoleh. Mulailah dari apa yang ingin dilakukan untuk kebudayaan dan siapa yang mampu menjalankannya.

Dari Sirnoboyo, langkah menuju Dana Indonesiaraya 2027 pun mulai disiapkan. Bukan hanya mengejar peluang pendanaan, tetapi membangun kesiapan komunitas agar gagasan budaya benar-benar memiliki arah, pelaksanaan, dan keberlanjutan.(*)