Ticker

6/recent/ticker-posts

Merawat Budaya, Menguatkan Peradaban Pacitan, FGD Dorong Generasi Muda Kenali Sejarah Daerah

Merawat Budaya, Menguatkan Peradaban Pacitan, FGD Dorong Generasi Muda Kenali Sejarah Daerah


PACITAN, info-nusantara.com
Upaya menjaga warisan sejarah dan kebudayaan Kabupaten Pacitan tidak cukup hanya dilakukan melalui dokumentasi. Keterlibatan masyarakat, komunitas budaya, akademisi, pemerintah, serta generasi muda dinilai menjadi kunci agar identitas budaya daerah tetap hidup dan tidak tergerus perkembangan zaman.
Pesan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) 1 bertajuk “Diseminasi Luaran dan Dialog Budaya” yang digelar bersama CV Socio Cultura Indonesia, Rabu (9/9/2026), di Aula STKIP PGRI Pacitan, Jalan Cut Nyak Dien 4A, Ploso, Pacitan.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari diseminasi hasil Program Dana Indonesiana 2025 melalui program “Inventarisasi dan Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya di Kabupaten Pacitan.”

Mengusung tema “Merawat Budaya, Menguatkan Peradaban Pacitan untuk Indonesia”, FGD mempertemukan berbagai unsur, mulai dari akademisi, pemerintah, komunitas budaya, tokoh masyarakat, pegiat literasi, generasi muda hingga para pemangku kepentingan kebudayaan.
Penanggung Jawab Kegiatan Program Dana Indonesiana 2025, Dr. Agoes Hendriyanto, S.P., M.Pd., mengatakan FGD tidak hanya dimaksudkan sebagai forum untuk menyampaikan hasil program, tetapi juga menjadi ruang dialog dengan masyarakat.

“Mendiseminasikan luaran, mendengarkan pengalaman masyarakat, sekaligus memperoleh tanggapan terhadap nilai dan manfaat luaran bagi pelestarian budaya Pacitan,” kata Agoes.

Menurutnya, masyarakat memiliki pengetahuan dan pengalaman lokal yang sangat penting dalam melengkapi hasil dokumentasi serta kajian mengenai objek pemajuan kebudayaan dan cagar budaya.
Melalui forum tersebut, hasil dokumentasi dan publikasi yang telah dilakukan diperkenalkan kepada masyarakat. Peserta juga diberikan kesempatan menyampaikan pengalaman, pengetahuan lokal serta berbagai masukan terkait langkah pelestarian budaya Pacitan ke depan.

FGD diharapkan dapat memperkaya dokumentasi mengenai sejarah, tradisi, kesenian dan berbagai warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat. Selain itu, forum tersebut menjadi momentum untuk memperkuat jejaring antarpelaku budaya dari berbagai wilayah di Kabupaten Pacitan.

Jangan Takut Ajukan Proposal Dana Indonesiana

Dukungan terhadap upaya pelestarian budaya juga disampaikan Ketua Tim Kerja Pemeliharaan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Jawa Timur, Nuryahman, S.S.

Ia mendorong masyarakat dan komunitas budaya di daerah agar lebih aktif memanfaatkan berbagai program dukungan kebudayaan, termasuk melalui Program Dana Indonesiana.

Nuryahman meminta masyarakat tidak perlu ragu mengajukan proposal hanya karena khawatir menghadapi persoalan administrasi maupun pelaporan.

“Jangan takut mengajukan proposal untuk Dana Indonesiana. Akan didampingi sampai tuntas, mulai administrasi hingga pertanggungjawabannya,” ujarnya.
Menurutnya, dukungan terhadap komunitas dan pelaku budaya menjadi penting agar berbagai potensi kebudayaan yang ada di daerah dapat terus dikembangkan sekaligus dilestarikan.
Kekhawatiran Generasi Muda Kehilangan Sejarah

Sementara itu, Ahmad Topan, S.Sos., yang juga Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Pacitan, mengungkapkan bahwa kegiatan inventarisasi dan kajian budaya tersebut berangkat dari keresahan yang telah dirasakan sejak sekitar lima tahun terakhir.

Keresahan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran bahwa generasi muda Pacitan pada masa mendatang tidak lagi mengenal sejarah daerahnya sendiri.

“Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi,” tegas Topan.

Ia menilai dokumentasi menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan pengetahuan mengenai sejarah dan kebudayaan Pacitan tidak hilang bersama perubahan zaman.

Menariknya, hasil kajian dan dokumentasi yang telah dilakukan di Pacitan kini juga mulai mendapatkan perhatian dari berbagai daerah. Sejumlah pihak dari luar Pacitan disebut meminta buku-buku hasil kajian tersebut sebagai contoh maupun referensi dalam upaya menjaga sejarah dan warisan budaya di wilayah mereka.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dokumentasi kebudayaan bukan sekadar menghasilkan buku atau arsip. Lebih jauh, dokumentasi menjadi bagian dari upaya menyelamatkan ingatan kolektif masyarakat.

Pacitan sendiri memiliki kekayaan sejarah, tradisi, seni hingga berbagai situs budaya yang belum seluruhnya terdokumentasikan secara optimal. Karena itu, pelestarian budaya tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah maupun kalangan akademisi.

Masyarakat, komunitas budaya dan generasi muda memiliki peran yang sama pentingnya dalam mengenali, merawat, mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan kembali warisan budaya kepada generasi berikutnya.

FGD 1 ini diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa warisan budaya Pacitan merupakan bagian penting dari identitas masyarakat sekaligus kekayaan budaya Indonesia.

Warisan tersebut harus terus dijaga, didokumentasikan, dikaji, dikembangkan dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Sebab ketika sejarah dan budaya tidak lagi dikenali oleh generasi penerus, yang hilang bukan hanya cerita masa lalu, melainkan juga identitas dan jati diri sebuah daerah.
Merawat budaya Pacitan pada akhirnya bukan sekadar menjaga peninggalan masa lalu, tetapi menjaga ingatan, jati diri dan peradaban untuk Indonesia.(*)